Skip to content

Conversations With A Sushi Chef

Mei 2, 2010

Minggu ini saya sedang tidak mood memasak karena baik saya dan istri berdua lembur di kantor masing-masing weekend ini. Sambil menunggu menjemput istri, saya mampir ke sushi bar favorit saya di Mall Kelapa Gading, yaitu restoran Ippeke Komachi Kaiten Sushi.

Terletak di lantai dasar MKG3, Kaiten sushi selalu penuh dengan ekspatriat dari Jepang. Salah satu alasannya adalah chef Saitoh yang memang Jepang tulen. Walau masih muda, sushi chef satu ini setidaknya membawa otentitas rasa “ke-Jepang-an” dalam hidangannya menurut seorang ekspatriat Jepang yang duduk disebelah saya.

“Jauh lebih enak dari dua restoran yang diujung mall ini”, tambah pria Jepang yang duduk disebelah saya. Ia seorang expatriat yang bekerja di pabrik mobil Jepang ternama yang terletak di daerah Sunter. Pria inilah yang memperkenalkan saya dengan sang sushi chef Ippeke: Chef Saitoh.

Chef Saitoh merupakan orang yang cukup ramah dan sangat pandai berbahasa Indonesia walau logat Jepangnya masih amat kental. Layaknya seorang chef sushi, ia sangat perhatian pada presentasi makanannya, baik saat ia membuatnya hingga disajikan ke pelanggan. Ia tidak segan memanggil kembali pelayan yang sudah membawa makanannya jika cara membawa makanan dalam nampannya salah, dan kembali ia susun sesuai dengan presentasi yang ia kehendaki.

Dalam perbincangan kami sembari ia menyiapkan maki set pesanan saya, saya bertanya mengapa ia mau menjadi sushi chef di Indonesia. Alasannya pun tak jauh beda dengan kebanyakan ekspatriat yang saya temui baik Jepang maupun Eropa dan Amerika; Dengan gaji yang diterimanya, ia bisa hidup sangat kecukupan di Indonesia dibanding di negara asalnya.

Salah satu alasan yang cukup berbeda adalah mengenai senioritas. Chef Saitoh mengatakan bahwa jika ia masih di Jepang dan bekerja di restoran besar disana, ia belum bisa menjadi chef utama, antrian menjadi chef utama sangatlah panjang. Antara ia membuka kedai sendiri atau bekerja di restoran kecil jika ia ingin cepat menjadi chef, tapi membuka kedai sendiri amat mahal dan gaji kerja di restoran kecil amatlah kecil untuk hidup sembari membayar pinjaman untuk ia sekolah dulu.

Chef Saitoh sendiri sudah 8 tahun tinggal di Indonesia, dan saat bertanya berapa lama lagi ia berencana tinggal di Indonesia, ia menjawab: “Selamanya mungkin, saya ingin pensiun nanti buka restoran sushi di Bali”.

Well good luck to you chef Saitoh, Kampai!

4 Komentar leave one →
  1. Tami permalink
    Mei 18, 2010 6:32 PM

    chef saitoh masih single gak ya? heheheh

    • Chandra Marsono permalink*
      Mei 18, 2010 6:36 PM

      Inget pacar Mi. Satu aja kewalahan gimana dua? hahaha…

  2. Juli 1, 2010 10:35 PM

    Masakan Jepang selain lezat dan eksotis, juga penuh filosofi.. butuh ketelitian juga dalam persiapannya, tak heran mereka digaji besar😀

  3. wulan permalink
    Juli 29, 2013 11:15 PM

    salam kenal mas chandra.

    saya juga pelanggan setia restoran ini sejak 7tahun lalu masih bernama robata komachi kl gak salah. dan saya setuju dgn pendapat pria jepang di sebelah anda. restoran ini jauh lebih enak drpd restoran diujung krn mnrut saya restoran ini laku jadi bahan-bahannya fresh terus. favorit saya mayo corn tapi yg baru dbuat jd rumput laut masih kriuk.murah meriah tapi yum!

    btw saya juga sampai ke blog ini karena penasaran dengan profile si chef saitoh yg selalu malu2 ini. kalo saya mau pesan seperti tidak mau lihat mata saya klo saya datang sendiri di sushi bar. saya jadi bingung. jadi kadang saya malah pesan sama chef lokal nya krn dia kok malu2 bgtu ya. padahal saya ingin ajak ngobrol juga.. jadi gak jadi deh..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: